Sebuah Epilog,
“Cantik itu Luka”
Selama ini, cantik itu
adalah sesuatu yang sangat didambakan oleh setiap
wanita. Setiap wanita ingin selalu tampil cantik.
Tetapi Cantik itu juga seringkali membawa luka baik bagi dirinya sendiri
ataupun bagi orang lain…..Berbeda itu Indah, indah itu cantik dan Cantik itu Luka….
Di
akhir masa kolonial, seorang perempuan dipaksa menjadi pelacur. Kehidupan itu terus
dijalaninya hingga ia memiliki tiga anak gadis yang kesemuanya cantik. Ketika
mengandung anaknya yang keempat, ia berharap anak itu akan lahir buruk rupa.
Itulah yang terjadi, meskipun secara ironik ia memberinya nama si Cantik.
“Namaku
adalah,Dewi Ayu”,
aku tinggal di hari bunda dan aku adalah
seorang pelacur terbaik di kota ini,
Seratus tujuh
puluh dua lelaki, yang paling tua Sembilan puluh dua tahun
dan yang
paling muda dua belas tahun. Seminggu setelah Ia dikuras.
Sebelumnya
aku dan gadis gadis Belanda yang lain ditawan oleh tentara Jepang hampir selama
dua tahun di Golden Camp.
Hampir
selama dua tahun kami hanya di beri makan lintah,tokek, cicak dan tikus,
Hingga pada suatu
saat,
tentara
Jepang itu memilih diantara kami, sebut
saja sebagai gadis gadis pilihan, cantik, mudah, sehat dan kuat…
Kami semua
dibawa ke sebuah tempat,
tepatnya
kesebuah rumah tetapi untuk ukuran sebuah rumah tempat itu terlalu mewah dengan
beberapa kamar didalamnya,
pemiliknya
adalah seorang perempuan pribumi setengah baya… sebutannya mama kalong.
Awal
setibanya disana…aku dan teman teman ku disambut dengan baik oleh dia dengan senyuman
dan sambil bercanda.
Kemudian Ia
berkata kepada kami,
“Ini adalah
rumah milik seorang pabrik limun di Batavia,
Yang aku… lupa namanya, tapi tak ada bedanya
karena…sekarang rumah inipun telah menjadi milik kalian”. Katanya.
Aku
bertanya,
” Untuk apa
?”
Dan perempuan
itupun menjawab,
“Kupikir kalian
di sini sebagai sukarelawan bagi jiwa jiwa tentara yang sakit” Jawabnya.
Teman teman
ku dengan polosnya berpikir bahwa mereka akan dipekerjakan sebagai suka relawan
palang merah.
Setelah
beberapa lama…., kami hanya di beri makan tanpa ada kegiatan yang berarti.
Teman teman
ku mulai bingung dan kesal….mempertanyakan,
sebenarnya mereka
akan melakukan pekerjaan apa, sampai salah satu diantaranya berkata, “ Tidak
kah kau merasakan sesuatu yang aneh…”
Aku juga
bilang kepada mereka,”Kecemasan datang dari ketidak tahuan”.
Teman ku Ola juga bertanya,” Memang…nya, kau
tahu apa yang akan terjadi atas kita”.
Aku jawab, “YA….jadi
pelacur”.
Lalu…. Terjadilah,
histeria histeria
pada saat tentara Jepang itu melepaskan birahi mereka.
Aku.., aku
dibiarkan bagaikan seonggok daging mati, segera setelah semuanya itu berlalu,
Aku
menasehati semua teman teman ku untuk melakukan apa yang aku lakukan.
”Berbaring
seperti mayat sampai mereka semua bosan”. Kata ku kepada semua teman teman,
Tapi….teman
teman ku menganggapnya itu jauh lebih mengerikan.
Lalu kata ku
lagi kepada mereka,
“Atau
cobalah yang melayani seseorang yang kaya sutera dengan penuh perhatian, bikin
Ia ketagihan sehingga Ia datang tiap malam membayar kalian untuk sepanjang
malam…, melayani orang yang sama jauh lebih baik dari pada terus menerus tidur
dengan orang orang yang berbeda, sambil berharap…kalian akan dibawa untuk
dijadikan gundik !!!”.
Tapi kembali
lagi teman teman ku menganggap itu amat mengerikan.
“atau
berbuatlah sebaliknya…”, kata ku
“Perkosalah…!!!,mereka”.
Aku, mulai
menjalin persabahatan yang aneh dengan perempuan pribumi setengah baya itu,
mama kalong
juga menyediakan seorang perempuan pribumi setengah buta sebagai tukang pijat.
Dan setiap
pagi seluruh teman teman ku mengikuti sebuh ritual pemijatan, percaya kepada
kata kata mama kalong, bahwa dengan hal itulah….maka mereka semua akan
terhindar dari kehamilannya,
“kecuali aku,
yang kadang kadang mau karena lelah, tapi aku lebih banyak melewati pagi hari
dengan tidur sebelum sarapan tiba karena menurutku seseorang itu hamil karena
di setubuhi bukan karena tidak dipijat….”. pikir ku dalam hati.
Ada hal yang
menarik lainnya…
Di jaman
revolusi…. Banyak semboyan gagah berani yang diserukan oleh orang orang dijalan
jalan dan dituliskan di dinding dinding sepajang jalan atau pada spanduk yang
membentang, atau sekedar catatan di buku anak sekolah….
Dan itu juga
memberikan gagasan kepada mama kalong untuk memberikan nama rumah pelacurannya
dengan semangat yang sama, yang nampaknya memberikan tujuannya kepada
keinginannya sendiri, beberapa pernah Ia coba seperti ;
“Bercinta
atau Mati”,
sebelumnya
juga pernah dicoba, “Sekali bercinta Tetap bercinta”.
Sampai
akhirnya nama rumah pelacurannya itu diberi nama,”Cinta Sampai Mati”
Tapi
terbukti kebenarannya…, seperti ada seorang tentara Nail mati saat bercinta
karena dipenggal oleh tentara gerilya…lalu
seorang tentara gerilya juga mati saat bercinta ditempat itu karena
ditembak oleh tentara Nail…Dan seorang pelacur juga mati di tengah percintaan
setelah di cium terlalu lama dan pingsan bersama.
Seorang
pelacur layaknya sama seperti sejarah, sebagaimana sejarahpun menceritakan tentang
prilaku seseorang.
Semua….perempuan
itu juga seperti “pelacur”, bahkan seseorang istri baik baik pun, menjual
kemaluannya demi mas kawin dan uang belanja. Pelacur itu menjajakan sek secara
komersial sedangkan seorang istri mejajakan sek dengan suka rela.
Masalahnya…
aku tak suka bercinta tanpa hikayah, Aku bukannya tidak percaya dengan adanya
cinta, karena aku melakukan semuanya ini dengan penuh cinta.
Jadi pelacur
kau harus mencintai segalanya…semua orang, semua benda, semua kelamuan,ujung
jari atau sampai kaki sapi. Aku merasa menjadi seperti sampah sekalipun putih.
Tapi hal
terpenting yang aku dapatkan setelah aku jadi pelacur adalah….Bahwa pelacur
pelacur yang baik adalah barang kepuasan para lelaki tanpa harus mempunyai
kekasih,
pelacur paling
tidak membuat seseorang tanpa harus menyimpan gundik,
sebab ketika
engkau mengambil seorang gundik, paling tidak kau telah menyakiti hati sang
kekasih dari gundik itu.
Setiap kali
seorang lelaki menyimpan gundik mungkin karena sebuah cinta…. tapi paling tidak
seorang gundik telah menyakiti seorang istri yang jelas jelas sudah kawin. Dan kesalahannya
mungkin adalah mengapa membuat suami
harus pergi ketempat pelacuran……?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.