Niko adalah pemuda lain yang pernah singgah dalam hatinya. Dan Rini tahu ini adalah sebuah pilihan sulit karena dia tahu kelak akan ada yang tersakiti diantara mereka berdua, tapi itulah jalan hidup ketika dipuncak kebimbangan yang begitu ingin memecah isi otak dikepalanya,
kehadiran Niko seperti menemukan sebuah jalan lain yang begitu mulus diantara sebuah jalan yang terjal dan berliku, bukan sebagai pelampiasan tapi sepertinya Ia menemukan kembali apa yang telah hilang dalam dirinya.
Namun dalam perjalannya, rasa bersalah terus menggeluti hatinya dan Rini tak mau ambil resiko jika harus selalu ada kebohongan diantara cinta segitiga itu,
akhirnya Rini memutuskan untuk jujur kepada dua pemuda itu yang sangat begitu berharga dalam kehidupannya walaupun ada beberapa hal yang harus disembunyikan dari mereka berdua dan diluar dugaan ternyata mereka Leonard dan Niko bisa menerima kondisinya.
Bahkan Leonard sempat mengatakan sesuatu yang membuat Rini harus menitikkan air matanya.
” Aku ikhlas jika kamu milih dia, mungkin kehidupan kamu akan lebih mudah dan tenang dan aku pasti bahagia jika melihat kamu bahagia dan ijinkan aku untuk terus selalu sayang sama kamu karena kamu adalah sosok yang berharga dalam diriku ….”
Disuatu hari ketika pulang kerja, Rini sedang berjalan dengan Leonard.
” Besok malam aku pulang dulu ya , mau nengok mamah ” Ucap Rini kepada Leonard
” Lama ga a disana ” Tanya Leonard
” Ngak.. lah paling cuma tiga hari ” Jawab Rini
Jumat malam sekitar jam 7 akhirnya Rini berangkat menemui orang tuanya…
Tujuan Rini memang ingin menemui ibunya tapi ada hal lain yang ingin Rini tuju yaitu dia berencana mengenalkan Niko kepada ibunya, karena bagaimanapun Ia beranggapan jika ibunya merestui apa yang dia pilih maka keyakinan untuk memilihnya akan semakin kuat.
Bahkan Leonard sempat mengatakan sesuatu yang membuat Rini harus menitikkan air matanya.
” Aku ikhlas jika kamu milih dia, mungkin kehidupan kamu akan lebih mudah dan tenang dan aku pasti bahagia jika melihat kamu bahagia dan ijinkan aku untuk terus selalu sayang sama kamu karena kamu adalah sosok yang berharga dalam diriku ….”
Disuatu hari ketika pulang kerja, Rini sedang berjalan dengan Leonard.
” Besok malam aku pulang dulu ya , mau nengok mamah ” Ucap Rini kepada Leonard
” Lama ga a disana ” Tanya Leonard
” Ngak.. lah paling cuma tiga hari ” Jawab Rini
Jumat malam sekitar jam 7 akhirnya Rini berangkat menemui orang tuanya…
Tujuan Rini memang ingin menemui ibunya tapi ada hal lain yang ingin Rini tuju yaitu dia berencana mengenalkan Niko kepada ibunya, karena bagaimanapun Ia beranggapan jika ibunya merestui apa yang dia pilih maka keyakinan untuk memilihnya akan semakin kuat.
” Mah kenalin ini Niko, temen Rini ” berkata kepada ibunya setelah beberapa saat sampai di rumah.
” Oh iya, silakan duduk ” Jawab ibunya Rini.
” Ya bu, terimakasih ” Kata Niko dengan penuh senyum
Niko yang kebetulan sehari-harinya berpenampilan rapih memang terlihat begitu gagah dimata ibunya Rini.
” Ntar aku ambil minuman... ya ” Kata Rini.
” Ya ..Rin ” Jawab Niko.
Rini sengaja meninggalkan Niko agar bisa mengobrol dengan ibunya dengan maksud melihat sikap Niko kepada ibunya dan juga tanggapan ibunya kepada teman prianya itu, tapi terlihat bahwa Niko sepertinya menjaga image didepan ibunya, lain hal dengan Leonard yang pertama kali bertemu dengan ibunya langsung terlihat akrab dan tak ada rasa canggung sekalipun.
” Nik, setelah pertemuan ini mungkin saya akan menentukan pilihan diantara kalian dan saya berharap tak ada yang tersakiti atas semuanya ini ” Kata Rini kepada Niko
” Ya aku ngerti dengan kondisi kamu dan aku juga ingin mengatakan jika kelak seandainya kamu memilih aku mungkin aku ingin segera menikah ” Jawab Niko
” Itu juga maunya aku Nik, berdoalah semoga keputusan nanti adalah yang terbaik buat kita semua ” Jawab Rini.
Setelah cukup lama ngobrol dan makan dirumahnya akhirnya Niko pamit untuk kembali ke Jakarta, dan Rini pun mengantar sampai di pelataran depan rumahnya.
Pada hari minggu, akhirnya Rini kembali pulang karena besoknya harus kerja seperti semula.
Dalam perjalanan pulang di mobil, Rini hanya bisa melamun berkecamuk perasaan karena harus menentukan dua pilihan yang terbaik yang kini ada didepan matanya,
Leonard adalah sosok yang begitu dekat dengan dia penuh perjuangan untuk mendapatkannya serta pengorbanan yang begitu besar ….
Niko seseorang yang begitu sabar, ke bapaan dan penuh pengertian ….
” Huh… kenapa musti terjadi, …. bagaimanapun aku harus memilih … ” Rini mengaduh.
Dengan penuh kemantapan hati yang dalam serta memohon petunjuk dari Illahi, Rini berharap akan datang sebuah petunjuk siapa diantara mereka yang harus dia pilih.
” Ya Allah jika benar ini adalah keyakinan saya, teguhkanlah…. ” Pinta Rini dalam doanya.
Dan Rini berharap bahwa yang dia pilih datang lewat impian, tapi setelah sekian lama dia menunggu impian itu tidak pernah datang,
hanya sebuah keteguhan hati dan keyakinan yang selalu ada didalam kebimbangannya.
Rini mengambil hp dan dia menekan sebuah nama yang ada di Phone booknya itu.
” Halo … kamu sehat ……” Kata Rini dan terdengar suara jawaban dari sana .
” Maafkan saya, semoga kamu bisa menerima semua ini, bagaimanapun ini harus saya putusin, makasih atas semuanya atas kehadiran kamu yang sudah memberi warna dalam hidup saya…. kamu adalah yang terbaik tapi bukan untuk saya karena rasanya saya tidak pantas untuk kamu …. maafkan saya karena saya harus memilih dia ….” Jawab Rini , dengan rasa sesak dalam dadanya sambil berkata.
Tak lama setelah itu, telepon pun ditutupnya.
Ya hari itu Rini sudah membulatkan tekad untuk memilih Leonard karena bagaimanapun terlalu banyak pengorbanan dan perjuangan yang telah mereka lalui, walau rintangan didepan mata begitu sangat berat tapi keyakinan dan kekuatan yang ada dihatinya begitu kuat.
” Oh iya, silakan duduk ” Jawab ibunya Rini.
” Ya bu, terimakasih ” Kata Niko dengan penuh senyum
Niko yang kebetulan sehari-harinya berpenampilan rapih memang terlihat begitu gagah dimata ibunya Rini.
” Ntar aku ambil minuman... ya ” Kata Rini.
” Ya ..Rin ” Jawab Niko.
Rini sengaja meninggalkan Niko agar bisa mengobrol dengan ibunya dengan maksud melihat sikap Niko kepada ibunya dan juga tanggapan ibunya kepada teman prianya itu, tapi terlihat bahwa Niko sepertinya menjaga image didepan ibunya, lain hal dengan Leonard yang pertama kali bertemu dengan ibunya langsung terlihat akrab dan tak ada rasa canggung sekalipun.
” Nik, setelah pertemuan ini mungkin saya akan menentukan pilihan diantara kalian dan saya berharap tak ada yang tersakiti atas semuanya ini ” Kata Rini kepada Niko
” Ya aku ngerti dengan kondisi kamu dan aku juga ingin mengatakan jika kelak seandainya kamu memilih aku mungkin aku ingin segera menikah ” Jawab Niko
” Itu juga maunya aku Nik, berdoalah semoga keputusan nanti adalah yang terbaik buat kita semua ” Jawab Rini.
Setelah cukup lama ngobrol dan makan dirumahnya akhirnya Niko pamit untuk kembali ke Jakarta, dan Rini pun mengantar sampai di pelataran depan rumahnya.
Pada hari minggu, akhirnya Rini kembali pulang karena besoknya harus kerja seperti semula.
Dalam perjalanan pulang di mobil, Rini hanya bisa melamun berkecamuk perasaan karena harus menentukan dua pilihan yang terbaik yang kini ada didepan matanya,
Leonard adalah sosok yang begitu dekat dengan dia penuh perjuangan untuk mendapatkannya serta pengorbanan yang begitu besar ….
Niko seseorang yang begitu sabar, ke bapaan dan penuh pengertian ….
” Huh… kenapa musti terjadi, …. bagaimanapun aku harus memilih … ” Rini mengaduh.
Dengan penuh kemantapan hati yang dalam serta memohon petunjuk dari Illahi, Rini berharap akan datang sebuah petunjuk siapa diantara mereka yang harus dia pilih.
” Ya Allah jika benar ini adalah keyakinan saya, teguhkanlah…. ” Pinta Rini dalam doanya.
Dan Rini berharap bahwa yang dia pilih datang lewat impian, tapi setelah sekian lama dia menunggu impian itu tidak pernah datang,
hanya sebuah keteguhan hati dan keyakinan yang selalu ada didalam kebimbangannya.
Rini mengambil hp dan dia menekan sebuah nama yang ada di Phone booknya itu.
” Halo … kamu sehat ……” Kata Rini dan terdengar suara jawaban dari sana .
” Maafkan saya, semoga kamu bisa menerima semua ini, bagaimanapun ini harus saya putusin, makasih atas semuanya atas kehadiran kamu yang sudah memberi warna dalam hidup saya…. kamu adalah yang terbaik tapi bukan untuk saya karena rasanya saya tidak pantas untuk kamu …. maafkan saya karena saya harus memilih dia ….” Jawab Rini , dengan rasa sesak dalam dadanya sambil berkata.
Tak lama setelah itu, telepon pun ditutupnya.
Ya hari itu Rini sudah membulatkan tekad untuk memilih Leonard karena bagaimanapun terlalu banyak pengorbanan dan perjuangan yang telah mereka lalui, walau rintangan didepan mata begitu sangat berat tapi keyakinan dan kekuatan yang ada dihatinya begitu kuat.
