Chapter 7
Dihadapan…Cinta yang berdiri dengan begitu anggun sambil tersenyum memandang Rindu dengan tatapannya yang begitu teduh,damai dan penuh rasa sayang….
maka Rindu pun berkata kepada Cinta ;
Dihadapan hati mu, aku memilih untuk berserah. Bawalah aku ke mana Engkau menginginkan kita pergi.
Telah ku buka hati untuk mengecap pahit dan manisnya rasamu,
aku bahkan rela menelannya mentah mentah dalam kesakitan ku dan aku ingin mencintaimu tanpa batas waktu. Tidak kini,dulu,apalagi nanti.....
Conclusion/Kesimpulan :
Ketika kita bersama mengucapkan janji yang tunduk pada ke egoisan diri kita, detik ini dan selamanya nanti, Absurd maupun Absolut, dan yang paling mengangumkan adalah kemiripan antara Cinta dan Kegilaan, sama sama tak terduga, karena cinta ini telah membumi hanguskan kewarasan kita.
Dan inilah nyatanya, bagaikan sebatang lilin yang membakar dirinya hingga luluh lantak pada ketiadaan untuk menjadi awal seperti sedia kala dalam dirinya.
Tanpa api yang berpijar sebagai titik dari awal atapun pengakhiran sebuah Lilin.
"Jadilah sebatang lilin yang bersinar hingga membuat orang yang kamu cintai menjadi terang, Jadilah lilin kecil yang bercahaya walaupun tidak seterang matahari tetapi engkau tetap dapat menerangi kegelapan."
"Be a candle that shines to make someone you love be the bright,
Be the small candles that glow although not as bright as the sun but you can still light up the darkness."
Selesai.....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.