Rudy

Rudy
Cover

Rabu, 04 April 2012

Kita tidak akan dapat menaiki tangga kesuksesan dengan mengenakan jubah kegagalan

“Kita tidak akan dapat menaiki tangga kesuksesan dengan mengenakan jubah kegagalan” Zig Ziglar 
“You cannot climb the ladder of success dressed in the costume of failure” Zig Ziglar

Ada seorang pelukis jalanan yang mempunyai impian untuk menjadi pelukis terkenal, dan untuk memujudkan impiannya itu, dia telah membuat puluhan lukisan yang indah.
Dan pada akhirnya…peluang kesempatan itu pun datang dan sepertinya telah berpihak kepadanya,
beberapa minggu lagi akan diadakan sebuah lomba lukisan yang akan di selenggarakan oleh pemerintah Kota. Dengan semangat yang menggebu-gebu, Ia segera mulai memilih lukisan mana yang terbaik sesuai dengan tema perlombaan.Dengan dengan segala upaya Ia berusaha memenuhi persyaratan dari perlombaan itu, hingga pada akhirnya Ia bisa mengikuti perlombaan itu, dengan bersusah payah Ia mengumpulkan biaya pendaftarannya baik dari hasil tabungannya maupun pinjaman kepada beberapa teman dan sanak saudaranya.

Dan tibalah saatnya untuk penyerahkan hasil karya dari Lukisan yang akan di perlombakan, sehari sebelum acara itu di mulai.

Dengan sepeda tua yang dimilkinya, Ia mulai mengikat lukisan itu kemudian dibawanya ke tempat perlombaan itu, yang jaraknya puluhan kilometer dari tempat tinggalnya.

Dalam perjuangan meraih impiannya, mulailah pelukis itu mengayuh sepedanya dengan penuh semangat dan suka cita karena harapan dan kesempatan telah ada didepan matanya….dan Ia berpikir sebentar lagi….ya rasanya sebentar lagi impian itu akan menjadi kenyataan.......
walaupun peluh telah membasahi seluruh tubuhnya dan nafaspun mulai memburuh di dadanya tetapi dia dengan cepat mengayuh sepedanya untuk segera tiba disana,dengan cepat dan sekuat tenaga terus Ia mengayuh sepeda itu....

Namun untung tidak dapat di raih dan malangpun tidak dapat di tolak, ternyata hari itu Tuhan berkehendak lain untuknya. 
Sebuah kaleng kosong yang dibuang tidak pada tempatnya…telah menghancurkan impiannya selama ini, dan Ia pun terjatuh bersama sepeda tuanya dan terpental  bersama lukisannya itu, tidak hanya merasakan sakitnya terjatuh, dengan beberapa luka ditangannya tetapi yang Ia kuatirkan adalah lukisannya itu....
Dengan tertatih menahan sakitnya dihampiri lukisan itu yang masih terikat di sepeda  dan ternyata telah rusak bersama sepedanya itu.

Dengan perasaan yang sangat sedih, pelukis itu terdiam dan termenung menatap lukisannya yang telah robek dan patah, kemudian Ia terduduk dan sepertinya tidak sanggup untuk berdiri. sesal dan air matanya pun secara perlahan membasahi kedua matanya… tak kuasa lagi Ia menahan derainya air mata yang mengalir membasahi wajahnya…….

Selang beberapa menit Ia termenung….di jalan, dengan perasaan yang bercampur aduk serta penuh dengan kekecewaan….. akhirnya Ia bersandar di pinggir tembok tepi jalan sambil berusaha untuk menenangkan pikirannya.
"Sulit rasanya dan hampir tidak mungkin untuk aku dapat menerima kenyataan ini" Ia berkata dengan suara yang sangat lemah.
Dengan tatapan mata yang penuh rasa kecewa dan duka yang sangat dalam, Ia termenung…..sambil melamun tentang perlombaan itu dan tentang lukisannya.

Kemudian ada hal yang mengusik lamunannya… tiba tiba Ia melihat seekor semut kecil yang berusaha merayap berjalan ke atas tembok sambil menarik sepotong roti yang lebih besar dari tubuhnya….. berusaha terus merayap menuju keatas tetapi akhirnya semut itupun terjatuh lagi ke tanah bersama potongan roti itu. Kemudian semut itupun berusaha lagi membawa potongan rotinya dan melakukan hal yang sama berulang ulang menuju keatas dinding tembok itu….dan semut itupun akhirnya terjatuh lagi.
“Menyerah sajalah….kau semut, karena memang engkau tidak ditakdirkan untuk melakukan itu…”Ucap pedih sang pelukis berkata dalam hatinya….dengan sedikit senyum kekecewaan di bibirnya.

Kemudian Ia kembali lagi kepada lamunannya membayangan bagaimana Ia bisa terjatuh…sambil menatap jalanan dimana tadi Ia bersama sepeda tuanya tergelincir...jatuh.

Lalu Ia berpikir lagi tentang semut itu, sambil berkata dalam hatinya…”pasti semut itu akan mencari jalan yang lain untuk membawa makanannya”.
Kemudian Ia mulai menengok lagi ke arah semut itu….tetapi Ia sangat terkejut…karena semut itu sekarang sudah berada jauh diatas dinding tembok sambil tetap membawa sepotong sisa roti itu.
Pelukis itupun terus menatap semut kecil itu sambil berpikir…..sepertinya tidak mungkin…

Akhirnya Ia mendapatkan pelajaran yang sangat berarti dari mahluk kecil tersebut dan Ia tersadar akan semuanya……
Ia melihat bagaimana perjuangan dari semut tersebut yang tidak pernah merasa gagal walaupun sudah berulang kali dia terjatuh tetapi tidak sedikitpun semut kecil itu mengurangi semangat dan antusiasnya untuk terus berusaha dan berjuang untuk tetap membawa potongan roti kecil itu.

akhirnya pelukis itu pun mulai bangkit dan berkata dalam dirinya dalam mewujudkan impian pasti selalu dipenuhi dengan segala rintangan yang di namakan “KEGAGALAN”
yang membuat kita merasa tidak mungkin dan tidak sanggup serta menyerah sajalah.., tetapi jika usaha itu terus dan terus dilakukan pasti akan ada jalan untuk meraih apa yang di impikannya…..

“Hai Semut…., di manakah Engkau ???”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.