“You cannot climb the ladder of success dressed in the costume of failure” Zig Ziglar
Ada seorang pelukis jalanan yang mempunyai impian untuk menjadi pelukis terkenal, dan untuk memujudkan impiannya itu, dia telah membuat puluhan lukisan yang indah.
beberapa minggu
lagi akan diadakan sebuah lomba lukisan yang akan di selenggarakan oleh
pemerintah Kota. Dengan semangat yang menggebu-gebu, Ia segera mulai memilih
lukisan mana yang terbaik sesuai dengan tema perlombaan.Dengan dengan segala upaya
Ia berusaha memenuhi persyaratan dari perlombaan itu, hingga pada akhirnya Ia bisa mengikuti perlombaan itu, dengan
bersusah payah Ia mengumpulkan biaya pendaftarannya baik dari hasil tabungannya
maupun pinjaman kepada beberapa teman dan sanak saudaranya.
Dan tibalah
saatnya untuk penyerahkan hasil karya dari Lukisan yang akan di perlombakan, sehari sebelum acara itu di mulai.
Dengan sepeda tua
yang dimilkinya, Ia mulai mengikat lukisan itu kemudian dibawanya ke tempat perlombaan itu, yang jaraknya puluhan kilometer dari tempat tinggalnya.
Dalam perjuangan meraih
impiannya, mulailah pelukis itu mengayuh sepedanya dengan penuh semangat dan suka
cita karena harapan dan kesempatan telah ada didepan matanya….dan Ia berpikir
sebentar lagi….ya rasanya sebentar lagi impian itu akan menjadi kenyataan.......
walaupun peluh telah membasahi seluruh tubuhnya dan nafaspun mulai memburuh di dadanya
tetapi dia dengan cepat mengayuh sepedanya untuk segera tiba disana,dengan cepat dan sekuat tenaga terus Ia mengayuh sepeda itu....
Namun untung
tidak dapat di raih dan malangpun tidak dapat di tolak, ternyata hari itu Tuhan
berkehendak lain untuknya.
Sebuah kaleng kosong yang dibuang tidak pada tempatnya…telah
menghancurkan impiannya selama ini, dan Ia pun terjatuh bersama sepeda tuanya
dan terpental bersama lukisannya itu, tidak hanya merasakan sakitnya terjatuh, dengan
beberapa luka ditangannya tetapi yang Ia kuatirkan adalah lukisannya itu....
Dengan tertatih
menahan sakitnya dihampiri lukisan itu yang masih terikat di sepeda dan
ternyata telah rusak bersama sepedanya itu.
Dengan perasaan
yang sangat sedih, pelukis itu terdiam dan termenung menatap lukisannya yang
telah robek dan patah, kemudian Ia terduduk dan sepertinya tidak sanggup untuk
berdiri. sesal dan air matanya pun secara perlahan membasahi kedua matanya… tak
kuasa lagi Ia menahan derainya air mata yang mengalir membasahi wajahnya…….
Selang beberapa
menit Ia termenung….di jalan, dengan perasaan yang bercampur aduk serta penuh
dengan kekecewaan….. akhirnya Ia bersandar di pinggir tembok tepi jalan sambil berusaha
untuk menenangkan pikirannya.
"Sulit rasanya dan
hampir tidak mungkin untuk aku dapat menerima kenyataan ini" Ia berkata dengan suara yang sangat lemah.
Dengan tatapan
mata yang penuh rasa kecewa dan duka yang sangat dalam, Ia termenung…..sambil melamun tentang perlombaan itu dan tentang lukisannya.
Kemudian ada hal
yang mengusik lamunannya… tiba tiba Ia melihat seekor semut kecil yang
berusaha merayap berjalan ke atas tembok sambil menarik sepotong roti yang
lebih besar dari tubuhnya….. berusaha terus merayap menuju keatas tetapi
akhirnya semut itupun terjatuh lagi ke tanah bersama potongan roti itu. Kemudian
semut itupun berusaha lagi membawa potongan rotinya dan melakukan hal yang sama
berulang ulang menuju keatas dinding tembok itu….dan semut itupun akhirnya terjatuh lagi.
“Menyerah sajalah….kau
semut, karena memang engkau tidak ditakdirkan untuk melakukan itu…”Ucap pedih sang
pelukis berkata dalam hatinya….dengan sedikit senyum kekecewaan di bibirnya.
Kemudian Ia
kembali lagi kepada lamunannya membayangan bagaimana Ia bisa terjatuh…sambil
menatap jalanan dimana tadi Ia bersama sepeda tuanya tergelincir...jatuh.
Lalu Ia berpikir lagi
tentang semut itu, sambil berkata dalam hatinya…”pasti semut itu akan mencari
jalan yang lain untuk membawa makanannya”.
Kemudian Ia mulai
menengok lagi ke arah semut itu….tetapi Ia sangat terkejut…karena semut itu
sekarang sudah berada jauh diatas dinding tembok sambil tetap membawa sepotong sisa roti
itu.
Pelukis itupun terus
menatap semut kecil itu sambil berpikir…..sepertinya tidak mungkin…
Akhirnya Ia
mendapatkan pelajaran yang sangat berarti dari mahluk kecil tersebut dan Ia
tersadar akan semuanya……
Ia melihat bagaimana perjuangan dari semut tersebut
yang tidak pernah merasa gagal walaupun sudah berulang kali dia terjatuh tetapi
tidak sedikitpun semut kecil itu mengurangi semangat dan antusiasnya untuk
terus berusaha dan berjuang untuk tetap membawa potongan roti kecil itu.
akhirnya pelukis
itu pun mulai bangkit dan berkata dalam dirinya dalam mewujudkan impian pasti selalu dipenuhi dengan segala rintangan yang di namakan “KEGAGALAN”
yang membuat kita
merasa tidak mungkin dan tidak sanggup serta menyerah sajalah.., tetapi jika usaha itu terus dan terus dilakukan
pasti akan ada jalan untuk meraih apa yang di impikannya…..
“Hai Semut…., di manakah
Engkau ???”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.